Sabtu, 17 September 2011

Analisis Pinjaman Modal dari Pihak Kedua pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam rangka Meningkatkan Perekonomian Daerah di Kota Batu.

a.      Judul Penelitian
Analisis Pinjaman Modal dari Pihak Kedua pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam rangka Meningkatkan Perekonomian Daerah di Kota Batu.
b.      Latar Belakang
Pasal 33 UUD 1945 mengamanatkan bahwa perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi dan berpihak pada rakyat. Selaras dengan pasal 33 UUD 1945, GBHN Tahun 1999 menekankan berjalannya demokrasi ekonomi dengan meningkatkan kemampuan koperasi dan usaha mikro, kecil serta menengah (UMKM). (UUD, 1945)
Sejak terjadinya krisis ekonomi tahun 1998, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) telah menunjukkan peran yang sangat penting dalam menggerakkan ekonomi baik dalam lingkup nasional maupun daerah. Peningkatan kegiatan usaha dan peran UMKM tahun 2005-2009 tergambar pada tabel 1 di bawah ini. UMKM mengalami perkembangan yang terus meningkat dan bahkan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut ditunjukkan dengan populasi UMKM tahun 2009 lebih dari 52 juta unit atau 99,99% dari keseluruhan pelaku bisnis di Indonesia. Perkembangan UMKM dari tahun 2005 hingga 2009 mencapai 12,22%, sedangkan Usaha Skala Besar mengalami penurunan 6,87%. Disamping itu UMKM memberikan kontribusi besar dalam penyerapan tenaga kerja yaitu 97,3% dan memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp.1.214,7 triliun atau 58,17%. (Badan Pusat Statistik, 2009)
Kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan dan peran UMKM tersebut masih bisa terus ditingkatkan, tidak saja karena ketangguhannya dalam menghadapi berbagai kejutan ekonomi, tetapi juga kemampuannya yang besar dalam menyediakan lapangan kerja, serta mengatasi kemiskinan. Namun dalam mengembangkan usahanya, UMKM menghadapi berbagai kendala baik yang bersifat internal maupun eksternal, permasalahan-permasalahan tersebut antara lain: 1) manajemen, 2) permodalan, 3) teknologi, 4) bahan baku, 5) informasi dan pemasaran, 6) infrastruktur, 7) birokrasi dan pungutan, 8) kemitraan. (Lestari, 2008)
Dari beragamnya permasalahan yang dihadapi UMKM, nampaknya permodalan tetap menjadi salah satu kebutuhan penting guna menjalankan usahanya, baik kebutuhan modal kerja maupun investasi. Untuk menjamin optimisme perkembangan UMKM di masa depan, jelas memerlukan penguatan peran dan strategi pembiayaan, khususnya dari pemerintah dan industri perbankan untuk mendukungnya.
Mengutip laporan BPS, Dibyo Prabowo dalam makalah nya pada seminar The Tokyo seminar on Indonesia 25-26 Agustus 2004 di Tokyo Jepang, menegaskan kembali bahwa 35,10% UMKM menyatakan kesulitan permodalan, kemudian diikuti oleh kepastian pasar 25,9% dan kesulitan bahan baku 15,4% (Prabowo, 2004). Oleh karena itu, pemerintah berupaya mencari solusi, salah satunya dengan cara meminta komitmen bank dalam pembiayaan UMKM dalam Bussiness Plan-nya dan juga menyediakan dana bergulir yang bersumber dari APBD atau bagian laba BUMN/D yang disisihkan. Selain itu, pemerintah mengoptimalkan peran lembaga penjaminan sebagai penjamin kredit yang diajukan oleh UMKM sehingga UMKM tetap dapat menikmati kredit perbankan walaupun tidak dapat memenuhi sebagian dari persyaratan yang ditetapkan perbankan. (Kajian Evaluasi dan Revitalisasi Kebijakan Pemerintah KUKM, 2008)
Pada tahun 2010 Pemkot Batu telah menyiapkan dana Rp 8,6 miliar
untuk peningkatan modal dan pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah
(UMKM). Kepala Dinas Koperasi dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Batu, Arif Setyawan menyatakan, anggaran yang cukup besar ini sengaja dialokasikan agar UMKM lebih berkembang. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, pertumbuhan UMKM di Kota Batu terbilang pesat. Dari 4.183 unit usaha pada 2006, bertambah menjadi 6.700 unit usaha pada 2007. Pada 2008 jumlah ini kembali meningkat menjadi 8.300 unit usaha dan terus bergerak naik menjadi 11.000 pada 2009. Hingga pertengahan Desember 2010 jumlah UMKM di Kota Batu sudah mencapai 11.862 unit usaha. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kota Batu hingga pada akhir 2009 mencapai 6,74%. Sementara pertumbuhan ekonomi di Jatim sekitar 6,5%. Artinya, pertumbuhan ekonomi Kota Batu jauh lebih baik dibandingkan kota lainnya. (Harian SINDO, 19 Desember 2010)
Oleh karena itu, peneliti ingin menguji signifikansi pinjaman modal pada UMKM dalam rangkameningkatkan perekonomian daerah dengan menganalisis UMKM di Kota Batu.
c.       Masalah Penelitian
Dari paparan realita di atas, maka masalah dalam penelitian ini yaitu:
1.      Bagaimana optimalisasi pinjaman modal pada UMKM di kota Batu?
2.      Bagaimana pengaruh pinjaman modal pada UMKM terhadap pertumbuhan perekonomian daerah?
d.      Signifikansi Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk menguji signifikansi penambahan modal pada UMKM guna menggerakkan perekonomian daerah dan pengentasan pengangguran di Kota Batu. Hal ini sangat penting guna penetapan kebijakan-kebijakan baru baik bagi pemerintah kota Batu maupun kota lainnya dalam pemberdayaan UMKM untuk mengoptimalisasikan pertumbuhan perekonomian daerah dan pengentasan pengangguran. Hal ini juga terkait dengan penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga berguna bagi UMKM sebagai acuan dalam mengembangkan usahanya melalui penambahan modal.
e.       Batasan Penelitian
Penelitian ini dibatasi oleh waktu, yaitu penambahan modal pada UMKM tahun 2007-2009.
f.       Kajian Riset Terdahulu
Kajian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Usaha UKM di Propinsi Sumatera Utara, diterbitkan di jurnal pengkajian koperasi dan UKM Nomar 1 tahun I-2006. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi UKM di Sumatera Utara meliputi: pengadaan bahan baku, peningkatan skill tenaga kerja, stabilitas harga aset, jumlah produksi dan lama berusaha.
Perkembangan dan Strategi Pengembangan Pembiayan UMKM, yang dilakukan oleh sri lestari Hs, Kasubid Evaluasi dan Pelaporan serta Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM. Penelitian ini dilakukan sebagai evaluasi Dinas Koperasi dan Perdagangan pada tahun 2007.
Strategi dan Model Pembinaan dan Pengembangan UKM Kota Pasuruan, oleh R. Suprapto dalam jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Vol.14, No. 2 Agustus 2002. Disimpulkan bahwa produk hortikultural memiliki prospek yang cukup baik di masa depan sesuai dengan kecenderungan pola konsumsi masyarakat.
g.      Kajian Teoritis
Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008  tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Pengertian UMKM adalah sebagai berikut:
1.       Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2.       Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3.       Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. (UU no. 20 tahun 2008 tentang UMKM)
Menurut Prof Shujiro Urata, kedudukan UKM dalam perekonomian Indonesia paling tidak dapat dilihat dari : (a). Kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor; (b). Penyedia lapangan kerja yang terbesar; (c). Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat; (d). Pencipta pasar baru dan inovasi; serta (e). Sumbangan dalam menjaga neraca pembayaran melalui sumbangannya dalam menghasilkan ekspor. (Urata, 2000)
Eksistensi dan peran UMKM yang pada tahun 2008 mencapai 51,26 juta unit usaha, dan merupakan 99,99 persen dari pelaku usaha nasional, dalam tata perekonomian nasional sudah tidak diragukan lagi, dengan melihat kontribusinya dalam penyerapan tenaga kerja, pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, devisa nasional, dan investasi nasional. (Kusumo, 2008)
Menurut Prof. Simon Kuznets, mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai ”kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan idiologis yang diperlukannya.
Teori pertumbuhan Solow-Swan secara garis besar mirip dengan teori Harrod-Domar, dimana asumsi yang melandasi model ini yaitu:
1.      Tenaga kerja (atau penduduk) tumbuh dengan laju tertentu, misalnya P per tahun.
2.      Adanya fungsi produksi Q = f (K, L) yang berlaku bagi setiap periode.
3.      Adanya kecenderungan menabung (prospensity to save) oleh masyarakat yang dinyatakan sebagai proporsi (s) tertentu dari output (Q). Tabungan masyarakat S = sQ; bila Q naik S juga naik, dan sebaliknya.
4.      Semua tabungan masyarakat di investasikan S = I = ΔK. (Boediono, 1992: 81-82).
Suatu peningkatan di dalam produktiftas (kenaikan effective-labor) menaikan baik output maupun konsumsi per tenaga kerja dengan dua cara. Pertama, secara langsung menaikkan jumlah yang dapat dihasilkan pada setiap tingkat rasio kapital-tenaga kerja. Kedua, dengan meningkatkan penawaran saving, maka peningkatan produktifitas juga telah menyebabkan rasio kapital-tenaga kerja jangka panjang mengalami kenaikan. Jadi, suatu peningkatan produktifitas melalui UMKM memiliki suatu dampak berganda yang bermanfaat atas standar hidup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di dalam jangka panjang laju peningkatan produktifitas adalah merupakan faktor dominan yang menentukan seberapa cepat pertumbuhan ekonomi. (Nanga, 2001).
h.      Metode Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di kota Batu, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
2.      Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah seluruh UMKM di Kota Batu, Yaitu berjumlah 11.000 unit. Sedangkan sampel yang akan diteliti diambil berrdasar pertimbangan tertentu, yaitu menggunakan metode nonprobability dengan tipe Purposive Sampling. Kriteria sampel yaitu: UMKM beroperasi terus menerus selama tahun 2007-2009, mendapatkan penambahan modal selama tahun 2007-2009, tertib administrasi akuntansi dan membuat laporan keuangan tahunan selama tahun 2007-2009.
3.      Jenis dan Sumber Data
Jenis data yag dibutuhkan adalah data primer dan data skunder yang bersumber dari pihak UMKM kota Batu, BPS kota Batu, dan Pemerintah Kota Batu.
4.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa wawancara dan dokumentasi. Instrument yang dibutuhkan adalah draf wawancara dan format data dokumentasi yang diperlukan.
5.      Metode Analisis Data
Hipotesis:
1.      H1o : Penambahan modal pada UMKM berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik B.
H1a : Penambahan modal pada UMKM berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan perkonomian daerah.
2.      H2o : Penambahan modal pada UMKM berpengaruh signifikan terhadap pengentasan pengangguran.
H2a :   Penambahan modal pada UMKM tidak berpengaruh signifikan terhadap pengentasan pengangguran..
Data diolah menggunakan alat statistik. Yaitu berupa uji regresi sederhana untuk menentukan ada tidaknya serta seberapa besar pengaruh Independent Variable (Penmbahan Modal) terhadap Dependent Variable (Pertumbuhan perekonomian daerah dan pengentasan kemiskinan). Adapun model dasar yang digunakan yaitu:
Y = a + Bx
Y =      Variabel terikat yaitu kinerja indikator keberhasilan penambahan modal untuk pengembangan usaha UMKM yang terdiri dari ;
Y1 = Pertumbuhan perekonomian daerah
Y2 = Pengentasan pengangguran
a   = Intersep (constanta)
B = Koesien Regresi
X = Variabel terikat (independent Variable) yaitu penambahan modal pada UMKM
Untuk menguji ada tidak pengaruh besar pengaruh dari Independet Variable terhadap Dependet variable akan digunakan Uji t (t. Test), dengan tingkat kepercayaan 95%.
Kriteria pengambilan keputusan: Jika t-hitung < t (α, n-k ) → Ho diterima,
                                                Jika t-hitung > t (α, n-k ) → Ho ditolak.
i.        Referensi
1.      Sjaifudian, Hetifah, Dedi Haryadi, Maspiyati (1995), Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil, AKATIGA, Bandung.
2.      Purnomo (1994), Kebijakan Pembinaan Koperasi dan Pengusaha Kecil Dalam Repelita VI, Kanwil Departemen Koperasi dan PPK Propinsi DIY , Yogyakarta.
3.      Bachruddin, Zaenal, Mudrajad Kuncoro, Budi Prasetyo Widyobroto, Tridjoko Wismu Murti, Zuprizal, Ismoyo (1996), Kajian Pengembangan Pola Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil, LPM UGM dan Balitbang Departemen Koperasi & PPK, Yogyakarta.
4.      Anonymus, 1999, Pemberdayaan Ekonomi Rakyat,  Departemen Koperasi, Penusaha Kecil dan Menengah, Jakarta
5.      Kartasasmita, Ginanjar, 1997. Administrasi Pembangunan, Perkembangan dan Prakteknya di Indonesia, LP3ES, Jakarta.
6.      Sparley, J.P., 1980. Participant Observation. Halt, Rinerhart and Winston, New York.
7.      Swasono Sri Edi, 1998. Pendekatan Pemberantasan Kemiskinan. Makalah pada Seminar Nasional HMJP Ekonomi, IKIP Malang, 25 Oktober 1998.
8.      Tjokrowinoto, Moelyarto, 1996.  Pembangunan Dilema dan Tantangan.  Putaka Pelajar, Yogyakarta.
9.      Usman Sanyoto, 1998. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat.  Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
10.  Urata, Shujiro, Prof. 2000. Policy Recommendation for SME Promotion in the Republic of Indonesia, JICAReport, Jakarta.

BUSINESS PLAN "GEROBAK KENTUCKY MANDIRI"

I.  Ringkasan Eksekutif
Gerobak Kentaki” adalah sebuah bisnis pemanfaatan bawang bombay dan jamur tiram yang disajikan dengan olahan kentaki. Bisnis ini bertujuan untuk meningkatkan nilai rempah-rempah dan sayur khususnya Bawang bombay dan jamur tiram, yang memiliki khasiat luar biasa, khususnya bagi kesehatan.
Produk yang ditawarkan yaitu Bawang bombay kentaki dan jamur kentaki dengan harga terjangkau. Sistem produksi dan penjualan produk “Gerobak Kentakiyaitu dengan sistem just in time (memproduksi pada saat ada pesanan). Pasar sasaran utama dari “Gerobak Kentaki” adalah para pelajar dan mahasiswa. Outlet yang tersedia kami tempatkan di tempat strategis dan sangat dekat dengan pasar sasaran yaitu wilayah kampus dan sekolah, diantaranya Jl. Veteran (Diantara Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang), Jl. Sumbersari (Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang), dan depan Universitas Muhammadiyah Malang.
Stakeholder internal pada bisnis Gerobak Kentaki” ini terdiri dari pemilik, manajemen, dan 3 tenaga kerja. “Gerobak Kentaki” buka setiap hari pukul 16.00-22.00 WIB, karena pada waktu tersebut sangat efektif untuk menjual produk yang sejenis gorengan.
Biaya investasi penjualan produk Gerobak Kentakiadalah sebesar Rp. 9.125.500. Payback Period untuk bisnis Gerobak Kentaki” yaitu 1 tahun.

II. Bisnis
a.      Konsep bisnis
Bisnis yang kami jalankan ini merupakan rintisan awal dan inovasi terbaru dalam pemanfaat rempah-rempah yang tumbuh diwilayah kami. Pemanfaatan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai rempah-rempah yang selama ini sangat rendah padahal memiliki manfaat yang luar biasa, khususnya bagi kesehatan. Oleh karena itu, hadirlah bisnis kami dengan nama “Gerobak Kentaki”.
Selama ini berbagai jenis produk kentaki telah membanjiri pasaran, bahkan ada beberapa yang dapat menembus pasaran internasional. Oleh karena itu, kami optimis produk-produk “Gerobak Kentaki ini dapat laku di pasaran, apalagi produk ini memiliki khasiat dalam bidang kesehatan.
Gerobak Kentaki” adalah usaha yang dikonsep oleh mahasiswa dan dijalankan sendiri dengan bantuan karyawan ahli. Kami menganut sistem Just in time. Pembeli dapat melihat langsung proses pengolahan dan makanan yang disediakan “Gerobak Kentaki”.
Tidak seperti gerobak makanan lainnya, “Gerobak Kentaki” memiliki pos-pos sendiri dan tidak perlu keliling kampung.  Tiga (3) gerobak yang ada ditempatkan di  wilayah strategis, yaitu dikampus yang notabene selalu diramaikan oleh mahasiswa. Pos pertama di Jl. Veteran (Depan Universitas Brawijaya), yang kedua di Jl. Gajayana No.50 (Depan Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang), dan ketiga di depan Universitas Muhammadiyah Malang.

b.     Produk yang ditawarkan
Sebagaimana penamaan usaha “Gerobak Kentaki”, maka produk-produk yang ditawarkan berupa kentaki dari beberapa rempah-rempah dan sayuran asli indonesia. Produk yang kami tawarkan tidak hanya nikmat akan tetapi juga menyehatkan, bahkan memiliki nilai tambah yaitu sebagai obat dari suatu penyakit. Berikut ini rincian dan penjelasan dari produk kami:
1.      Bawang Bombay Kentaki
Bawang bombay kentaki dibuat dari bahan dasar bawang bombay yang selama ini biasanya digunakan masyarakat sebagai bumbu masakan.
Inilah produk utama “Gerobak Kentaki”, balutan tepung kentaki pada bawang bombay memberikan ciri khas rasa tersendiri. Produk ini dijasikan dengan saus sambal.
Bawang bombay kentaki selain memiliki nilai ekonomis, juga memiliki khasiat dalam bidang kesehatan, khususnya masalah gula darah. Para penderita diabetes, dengan mengonsumsi bawang bombay kentaki tidak menyadari bahwa mereka berusaha menyembuhkan masalah gula darah, karena mengonsumsi bawang bombay kentaki seperti halnya mengonsumsi camilan yang lain, tidak ada rasa pahit sehingga tidak seperti minum obat. Sehingga konsumen bawang bombay kentaki ini memperoleh manfaat ganda dari mengonsumsi produk ini.
2.      Jamur Kentaki
Jamur kentaki menggunakan jamur tiram sebagai bahan utamanya. Rasa kenyal yang dibalut dengan tepung renyah membuat konsumen kangen untuk selalu menikmatinya.
Selain itu, menurut berbagai penelitian, manfaat jamur tiram disamping sebagai makanan adalah menurunkan kolesterol, bersifat sebagai antibakteri dan antitumor, bahkan seratnya juga baik untuk pencernaan.

c.      Harga
Harga yang ditawarkan oleh “Gerobak Kentaki” sangat kompetitif dan terjangkau, sesuai pangsa pasar kami yang meliputi pelajar, mahasiswa dan kalangan umum. Berikut adalah daftar harga produk “Gerobak Kentaki”:
1)      Bawang Bombay Kentaki                    Rp. 5,000 perbungkus
2)      Jamur Kentaki                                      Rp. 5,000 perbungkus

d.     Pemasaran
Proses pemasaran dilakukan untuk memperkenalkan Gerobak Kentaki”,  serta menarik minat konsumen. Selain menyajikan cara pembuatan, untuk memperkenalkan produk ini dilakukan dengan menyebarkan brosur dan mengadakan semacam bazar khusus untuk produk pangan tradisional, terutama produk yang memiliki khasiat dalam bidang kesehatan.
Proses distribusi dilakukan untuk menyalurkan produk Gerobak Kentakiyaitu dengan sistem just in time (memproduksi pada saat ada pesanan). Adapun tempat yang dijadikan penjajakan adalah di wilayah kampus, yaitu di Jl. Veteran (Depan Universitas Brawijaya), Jl. Gajayana No.50 (Depan Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang), depan Universitas Muhammadiyah Malang.

e.      Layanan pelanggan
Pelanggan adalah raja dalam bisnis kami, oleh karena itu kami sangat mengutamakan pelayanan yang dapat memuaskan pelanggan. Sebagai orang yang berinteraksi langsung dengan pelanggan, karyawan mempunyai peran penting dalam memenuhi kepuasan konsumen. Untuk itu, kami menerapkan 3 R (Rapi, Ramah, dan Rajin). Selain itu, selama para pembeli menunggu produk jadi, kami sediakan beberapa bahan bacaan berupa surat kabar dan majalah.

f.       Pasokan barang dagangan
Barang dasar (bahan baku) dari produk kami berasal dari bahan-bahan yang berkualitas pilihan. Kami membali rempah dan sayur langsung dari petaninya kemudian kami olah dengan higienis sehingga tercipta rasa yang berkualitas dan juga sehat.

g.      Operasional & Produksi
 Gerobak Kentaki” buka setiap hari pukul 15.00-20.00 WIB, karena pada waktu tersebut sangat efektif untuk menjual produk yang sejenis gorengan.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sistem produksi ini berupa Just In Time atau makanan cepat saji, jadi proses produksi dilakukan pada saat ada pesanan dari konsumen. Proses produksi ini hanya memerlukan waktu 3-5 menit hingga siap dimakan dan sampai ditangan konsumen.
Proses pengemasan dilakukan untuk memberikan nilai tambah pada produk Gerobak Kentakiagar terlihat lebih menarik, praktis, efisien sehingga meningkatkan nilai jual. Produk Gerobak Kentakidikemas dengan plastik ukuran 1 kg. Pada kemasan disertakan informasi produk mengenai nama produk, komposisi, dan tempat produksi.

III. Pasar konsumen
a.      Segmentasi pasar
Segmen “Gerobak Kentaki” adalah para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum, yang difokuskan pada kawasan Veteran, Gajayana dan Dinoyo. Pasar sasaran utama dari  Gerobak Kentaki” adalah para pelajar dan mahasiswa. oleh karena itu, outlet  Gerobak Kentaki  kami tempatkan dikawasann sekolah dan kampus. Pasar alternatif yang kami tuju yaitu masyarakat umum diantaranya para karyawan kantor, dosen, pekerja atau masyarakat lainnya.

b.      Perilaku konsumen
Masyarakat saat ini baik itu pelajar, mahasiswa atau umum mulai memperhatikan pola konsumsi yang sehat. Mereka lebih selektif dalam mengkonsumsi makanan, termasuk cemilan mereka sehari-hari. Namun, tak lepas dengan rasa yang mereka sukai. Disinilah peluang bisnis  Gerobak Kentaki”, menyediakan cemilan nikmat dengan khaisiat tinggi.


IV. Persaingan
Melihat prospek usaha makanan semakin pesat, maka bisnis Gerobak Kentakidiharapkan mampu mendobrak angka-angka penjualannya. Produk utama yang ditawarkan Gerobak Kentaki” relatif baru dan masih belum ada di pasaran umum, sehingga tidak memiliki saingan yang berupa bisnis penyedia produk yang sama (bawang bombay kentaki).
Namun demikian, kami memiliki beberapa pesaing yaitu bisnis makanan lain, khususnya penjual krispy atau kentaki seperti tahu krispy, ayam kentaki dan sebagainya.
Diarea pemasaran bisnis Gerobak Kentaki” tingkat persaingannya tinggi, karena memang diarea kampus banyak penjual makanan ataupun cemilan walaupun tidak sejenis. Diantra saingan utama kami yaitu tahu krispy bang doel.

V. Management
Stakeholder internal pada bisnis Gerobak Kentaki” ini terdiri dari pemilik, manajemen, serta tenaga kerja produksi yang melakukan aktivitas proses produksi. Manajemen bertanggung jawab terhadap kelangsungan usaha dan juga merupakan pemilik usaha. Selain tenaga kerja tetap, terkadang diperlukan tenaga kerja borongan jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan pesanan atau pada musim tertentu dimana proses produksi meningkat.
Sistem penggajian untuk tenaga kerja produksi adalah sistem upah produksi. Pada sistem ini, bagian produksi  Gerobak Kentaki” terdiri dari 3 orang, yang ditempatkan setiap pos/outlet.

1.   Struktur Organisasi Proyek
Struktur yang dibutuhkan dalam melaksanakan bisnis Gerobak Kentaki” ini antara lain yaitu:

Jabatan
Jumlah (Orang)
Pemilik Usaha
1
Manajemen
1
Karyawan
3

Berikut ini disjikan bagan atau struktur organisasi usaha “Gerobak Kentaki”

2.      Description

Jabatan
Job Description
Pemilik Usaha
Mengendalikan dan membuat keputusan tertinggi yang menyangkut kelangsungan hidup industri kripik bawang bombay.
Manajemen
Memimpin dan menangani hal-hal yang berkaitan dengan opersional perusahaan baik internal maupun external. Tugas dan tanggung jawab manajer terbagi menjadi 3 bagian, yaitu keuangan, personalia, dan kualitas operasi perusahaan.
Karyawan
Memproduksi dan menjual produk “Gerobak Kentaki”, melayani pelanggan dengan baik serta bertanggung jawab kepada pihak manajemen.


VI. Biaya-biaya
1. Biaya Bahan Baku:
Bawang Bombay dan Jamur                                       Rp.1.600.000
Tepung Trigu 20 kg @ Rp.7000                                 Rp.   140.000
Meizena 20 bngks @ Rp. 3000                                   Rp.     60.000
Baking Powder 25 btl @ Rp.  2.500                          Rp.     62.500
Gula Pasir 2 kg @ Rp. 9.000                                      Rp.     18.000
Telur 50 kg @ Rp. 12.000                                          Rp.   600.000
Minyak Sayur 35 ltr @ Rp. 11.500                             Rp.   402.500
Susu Cair 5 ltr @ Rp. 11.000                                      Rp.     55.000
Garam & Merica                                                         Rp.     30.000
Gas Elpiji 3 kg 3 tbng @ Rp. 13.500                          Rp.     40.500
Jumlah Biaya Bahan Baku                                      Rp. 2.008.500

2. Biaya Perlengkapan & Peralatan
Kompor Gas 3 buah @ Rp. 80.000                            Rp.   240.000
Tabung LPG 3kg 3 buah @ Rp. 120.000                   Rp.   360.000
Regulator & Selang 3 buah @ Rp. 100.000               Rp.   300.000
Kemasan spesial 800 biji @ Rp. 1.000                       Rp.   800.000
Gerobak 3 buah @ Rp. 1.000.000                              Rp.3.000.000
Wajan besar 3 buah @ Rp. 53.000                             Rp.   160.000
Penggorengan 3 buah @ Rp. 10.000                          Rp.     30.000
Pisau besar 3 buah @ Rp. 10.000                               Rp.     30.000
Kuali besar 3 buah @ Rp. 20.000                               Rp.     60.000
Alat peniris 3  buah @ Rp. 16.700                             Rp.     50.000
Keranjang plastik 8 buah @ Rp. 12.000                     Rp.     96.000
Jerigen besar 3 buah                                                    Rp.   100.000 
Serbet tanggung 4 buah @ Rp. 7.500                         Rp.     30.000
Clemek 4 buah @ Rp. 15.000                                     Rp.     60.000
Telenan besar 3 buah                                                   Rp.     26.000
Jumlah Biaya Perlengkapan & Peralatan              Rp. 5.342.000
3. Biaya lain-lain
Biaya pemasaran                                                         Rp.     250.000
Biaya Tenaga Kerja 4 orang @ Rp. 300.000              Rp.  1.200.000
Biaya Listrik dan telepon                                            Rp.     125.000  
Biaya transportasi                                                       Rp      150.000
Jumlah Biaya Lain-lain                                            Rp.  1.775.000

Rincian Estimasi Biaya
Biaya Bahan Baku                                                      Rp. 2.008.500
Biaya Perlengkapan & Peralatan                                 Rp. 5.342.000
Biaya Lain-lain                                                            Rp. 1.775.000
Total                                                                           Rp. 9.125.500

VII. Proyeksi Keuangan
1.   Biaya Investasi
Biaya investasi penjualan produk Gerobak Kentakiadalah sebesar Rp. 9.125.500, dengan rincian sebagai berikut:
Biaya Bahan Baku                                                     Rp. 2.008.500
Biaya Perlengkapan & Peralatan                               Rp. 5.342.000
Biaya Lain-lain                                                          Rp. 1.775.000
Total Investasi                                                          Rp. 9.125.500
2.   Perkiraan Biaya Per Unit
Biaya Variabel (Variable Cost) untuk 800 unit
Biaya bahan baku                     Rp.  2.008.500          
Biaya kemasan                          Rp.     800.000
Biaya pemasaran                       Rp.     250.000
Biaya listrik dan telepon           Rp.     125.000
Biaya transportasi                     Rp.     150.000
Jumlah biaya variabel                                                   Rp. 3.333.500
Biaya tetap (Fixed Cost)
Biaya penyusutan peralatan                                          Rp.      75.700
Biaya total (Total Cost)                                               Rp. 3.409.200
3.   Biaya Rata-Rata Per Unit  (Average Cost)
Biaya rata-rata per unit (AC) = Biaya variabel + Biaya Tetap
         Unit
    = Biaya Total (Total Cost)
     Unit
    = Rp. 3.409.200
        800
    = Rp. 4.262
Keterangan:
Diasumsikan peralatan pendukung memiliki umur ekonomis selama lima tahun, dengan menggunakan metode garis lurus dan diperkirakan nilai residu peralatan atau nilai sisanya adalah Rp 0.
Biaya peralatan - biaya kemasan          = Rp. 5.342.000 -  Rp. 800.000.
                                                                  = Rp. 4.542.000
Maka penyusutan peralatan tiap bulan = Peralatan-Nilai Residu
   Umur Ekonomis
      = Rp. 4.542.000 – Rp 0
                                                                                    60 bln
      = Rp 75.700
4.   Perkiraan Penjualan

Bulan ke
I
II
III
IV
Produksi (bungkus)
800
840
880
920
Modal kerja untuk 4 bulan pertama 3440 x @ Rp 4.262         Rp.14.661.280
Penjualan (bungkus)
800
840
880
1920
Penjualan selama 4 bulan pertama 3440 x @ Rp. 5.000          Rp.17.200.000
Laba usaha selama 4 bulan pertama                                        Rp    2.538.720

Keterangan:
a.        “Gerobak Kentaki”  dijual dengan harga Rp 5.000 per bungkus.
b.        Diperkirakan pada produksi bulan berikutnya akan memperoleh keuntungan yang lebih karena sudah memiliki langganan (konsumen tetap) dan masyarakat sudah mulai menyukai produk “Gerobak Kentaki”.
5.      Break Event Point (BEP)
Total Modal : Rp.14.661.280
      Harga per unit : Rp.      5.000
      Rata-rata Pendapatan per bulan Rp. 17.200.000 : 4 bulan = Rp.  4.300.000
      Rata-rata Biaya per bulan : Rp. 14.661.280 : 4bulan         = Rp.  3.665.230
                                             Keuntungan per bulan                = Rp.    634.680
                  BEP = Total modal awal
                              Keuntungan per bulan

                          =  Rp. 14.661.280
                              Rp.   634.680
                  BEP = 23,1 bulan/2 tahun

      Keterangan :
Dengan modal awal sebesar Rp. 14.661.280 dengan keuntungan yang didapat per bulannya Rp. 634.680 dan biaya rata-rata perbula sebesar Rp. Rp.  3.665.230. Jadi usaha ini akan mencapai Break Event Point (BEP) dalam waktu kurang lebih 23 bulan, atau sekitar 2 tahun.
6.      Penilaian Invesatsi
Untuk menentukan layak tidaknya suatu invstasi ditinjau dari aspek keuangan perlu dilakukan pengukuran dengan beberapa kriteria. Setiap penilaian layak diberikan nilai yang standar untuk usaha yang sejenis dengan cara membandingkan dengan rata-rata industri atau target yang telah ditentukan.
Dalam prakteknya ada beberapa kriteria untuk menentukan apakah suatu usaha layak atau tidak untuk dijalankan ditinjau dari aspek keuangan. kriteria  ini sangat tergantung dari kebutuhamn masing-masing perusahaan dan metode mana yang akan digunakan. Adapun kriteria yang biasa digunakan untuk menentukaan kelayakan suatu usaha atau investasi yaitu Payback period (PP), Average Rate of Return (ARR), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR, Profitability Index (PI). Pada penilaian investasi usaha “Gerobak Kentaki” ini hanya dilakukan dengan Payback period (PP), Average Rate of Return (ARR).
1)      Payback period (PP)
Metode payback period (PP) merupakan teknik penilain terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Perhitungan ini dapat dilihat dari perhitungan kas bersih yang diperoleh setiap tahun.
Metode Payback Periode Payback Period    =     Investasi       x 1 Th
             Arus Cash Inflow
                                                                       =     Rp 9.125.500 x 12 bln
                                                                             Rp 8.524.560
                                                                       = 12,8 bulan/1 tahun
Keterangan:
Invesatsi             = Rp. 9.125.500
Arus Cash Flow = EAT + Depresiasi
                           = Rp 7.616.160 + Rp 908.400
                           = Rp 8.524.560
2)   Average Rate of Return (ARR)
Average Rate of Return (ARR) merupakan cara untuk mengukur rata-rata pengembalian bunga dengan cara membandingkan antara rata-rata laba setelah  pajak (EAT) dengan rata-rata investasi.
ARR(%) =
Rata-rata EAT =
Rata-rata investasi =
Jumlah EAT = (Rp7.616.160+Rp8.149.291+Rp8.719.741+Rp9.330.123+ Rp9.983.232)
         = Rp 43.798.547
*) Diestimasikan EAT tiap tahunnya mengalami peningkatan 7%.
Rata-rata EAT =   = Rp 8.759.709
Rata-rata investasi =   = Rp 4.562.750
ARR  = = 1,92