Jumat, 11 Februari 2011

Kilas Balik Tragedi Trisakti

Judul : ANDROMEDA
(Repihan Kisah Di Balik Suksesi Kepemimpinan Nasional, Mei 1998)
Penulis : Nisa’ul Kamila Chisni
Penerbit : Garasi - Yogyakarta
Cetakan I : Juli - 2008
Tebal : 202 halaman
Peresensi : Fauziah*)

Buku yang menggambarkan suatu insiden nasional dengan dikemas dalam karya fiksi sangat jarang ditemukan. Apalagi yang berbau perpolitikan negara. Buku “Andromeda: repihan kisah di balik suksesi kepemimpinan nasional, mei 1998” adalah reinterpretasi dan analisis terhadap data-data yang kemudian diramu menjadi sebuah novel. Karya Nisa’ul Kamila Chisni ini merupakan cerita hasil imajinasi tentang tragedi memilukan Mei 1998 yang telah menumbalkan banyak korban dan menjadi tonggak bagi reformasi di Indonesia.
Pada masa Orde Baru yang represif dan tidak demokratis ini banyak terjadi demonstrasi baik yang dipelopori dari mahasiswa maupun rakyat sipil. Demonstrasi ini demi menggulingkan rezim orde baru yang acap kali mengintimidasi dan menindas siapaun yang menghalangi keterwujudan absolusitas kekuasaan sang pemimpin. Tak terhitung berapa banyak aktivis yang tiba-tiba menghilang. Penculikan para penghambat kekuasaan rezim orde baru kerap terjadi. Mulut-mulut kritis di bungkam, tulisan-tulisan cerdas dihanguskan, orang-orang berhati nurani disingkirkan, sejarah pun diputar balikkan demi kekuasaan mutlak seumur hidup.
Dalam novel ini banyak dihadirkan nama tokoh baru yang murni rekaan sang penulis. Andromeda Fadilla, tokoh utama dalam novel ini merupaka salah satu incaran pelaku penculikan. Pengurus senat mahasiswa UI ini adalah orator ulung di setiap demonstrasi. Kekritisan dan kelantangannya menyuarakan amanat hati nurani rakyat menempatkannya sebagai salah satu dari “orang-orang berbahaya” bagi pihak-pihak yang berseberangan dengan gerakan mahasiswa. Meda (nama kecil Andromeda Fadilla) adalah sosok mahasiswi berjilbab yang memegang teguh agamanya.
Zou adalah sahabat dekat meda yang juga mahasiswi fakultas hukum. Meskipun mereka berada di universitas yang berbeda namun ikatan persahabatan terjalin erat. Zou adalah warga negara keturunan (chiness) yang merupakan kaum minoritas. Dia dan orang-orang bermata sipitlainya tidak hanya mendapat perlakuan diskriminatif dari pemerintah, tetapi juga mendapat stigma negatif dari mayoritas masyarakat.
Di era orde baru kaum chiness memang mendapatkan perlakuan diskrimanatif. Mereka diberi tanda khusus pada KTP, dipersulit mengurus paspor, SIM dan lainnya. Mereka juga tidak diperbolehkan memasuki arena politik dan didiskriminasi dalam hal militer dan pegawai negeri sipil. Bahkan perayaan Hari raya mereka pun dilarang.
Kisah ini bermula dari mimpi buruk meda yang menghantuinya disetiap malam pra aksi yanng akan dilakukan oleh mahsiswa trisakti, yang salah satu asternya adalah zou, sahabat karib meda. Meda yakin mimpi ini merupakan firasat buruk. Meda sangat menghawatirkan zou. Akhirnya meda memilih mendampingi zou dalam aksi yang dipelopori oleh mahasiswa trisakti tagal 12 mei 1998 itu.
Dalam aksi tersebut benar-benar terjadi chaos berskala nasional. Mahasiswa di hadapkan dengan beberapa aparat dan juga militer. Di pertengahan aksi terjadi sebuah kerusuhan. Barisan demonstran terpecah menjadi dua bagian dan tengahnya terisi pasukan berseragam loreng dengan berkendara motor. Tiap motor di tunggangi oleh dua tentara, satu menyetir dan lainnya dalam posisi berdiri memegang senjata bak di medan perang. Di sore yang berhujan ini suasana menjadi panas. Terdengar tembakan-tembakan yang diarahkan pada mahasiswa. Aparat kepolisian mengamuk, mereka juga mengejar mahasiswa dengan senapan teracung.
Mahasiswa berlari ke tempat yang aman. Beberapa mahasiswa yang tak sempat lari menjadi korban amukan polisi. Mereka ditendang berkali-kali dengan sepatu laras polisi, kepala merka dipukul dengan popor, sedangkan mahasiswa berteriak minta ampun dan menahan sakit. kepala salah satu orator dalam aksi itu ditentdang-tendanng di tanah.
Zou dan meda terus berlari mencari tempat yang aman. Namun sebagai aster, zou ingin menyelamatkan dan mengondisikan mereka, meda tetap menghalanginya dengan alasan yang cukup kuat. “kembalilah kau ke depan agar kawan-kawan mahasiswa kehilangan satu lagi aktivis terbaiknya sementara reformasi belum menuai hasil” kata meda di dalam novel ini. Akhirnya zou menuruti keinginan meda untuk kembali kekampus.
Pelemparan gas air mata terjadi di hampir setiap sisi jalan. Sedangkan dari arah grogol fly over aparat menyentakkan peluru secara membabi buta. Suara tembakan terus membayang-bayangi suara hujan. beberapa onggok tubuh mahasiswa tergeletak diantara telah berdarah-darah. Meda juga ikut tertambak.
Saat rombonngan mahasiswa mulai mencapai pintu gerbang kampus, sekelompok pasukan bermotor dengan memakai perlengkapan rompi bertuliskan URC mengejar mereka hingga ke gerbang. Sebagian dari pasukan bermotor naik ke grogol fly over, merka menembaki mahasiswa bahkan saat mahasiswa telah berlindung di salah satu gedung di kampus mereka para sniper itu masih mengarahkan tembakannya. Sedang para aparat yang berada di depan pintu gerbang kampus menyerbu dan membuat farmasi siap tembak dua baris dan kembali menembak ke arah mahasiswa.
Petang itu kampus trisakti berubah wujud bak rumah sakit. empat mahasiswa trisakti gugur di medan aksi, dan puluhan mahasiswa terluka, salah satu dari puluhan itu adalah meda.
Meda yakin, dalam inseden ini ada aktor intelektual yang memanfaatkan demo Trisakti dengan menciptakan aksi yang memprofokasi kerusahan berskala internasional ini. Bisa jadi ada permainan para jenderal di tubuh ABRI atau para elit politik yang menginginkan tampuk kekuasaan.
Pada hari berikutnya terjadi kerusuhan besar-besaran di jakarta di hampir semua titik penumpukan massa. Kerusuhan itu di picu dari kemarahan terhadap aparat atas insiden trisakti. Pembakaran ban, lempar batu dan botol, pengrusakan pagar dan segala rambu lalu limtas terjadi dimana-mana. Kerugian material dalam Kerusuhan 13-14 mei mencapai triliunan rupiah.kerugian lainnya adalah kehilangan pekerjaan, kerugian jiwa akibat terpanggang hidup-hidup saat kerusuhan. Beberapa orang diculik, ratusan orang meninggal dan terluka, pelecehan seksual terhadap WNI keturunan pun meraja lela. Jakarta lumpuh, jakarta membara, jakarta menjadi kota yang haus akan darah dan air mata.
Melalui novel ini pembaca bisa membuat spekulasi dengan rangsangan-rangsangan cerita yang ada sehingga pembaca dapat menyimpulkan siapa sebenarnya dalang kerusuhan tragedi trisakti tersebut.
Dari novel keduanya ini penulis berharap akan ada rekonsiliasi Nasional. Novel ini juga dimaksudkan untuk menggugah hati setiap orang agar meneruskan perjuangan para pahlawan reformasi dan merealisasikan amanah reformasi dengan penuh kearifan. Novel terbitan Garasi ini di proyeksikan sebagai peringatan 10 tahun Reformasi dan 100 tahun kebangkitan Nasional Republik Indonesia. Akhirnya, saya ucapkan “selamat membaca!!!!”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar