Minggu, 30 Januari 2011

PASAR MODAL

BAB I
PENDAHULUAN

Pasar modal merupakan tempat kegiatan perusahaan mencari dana untuk membiayai kegiatan usahanya. Selain itu, pasar modal juga merupakan suatu usaha penghimpunan dana masyarakat secara langsung dengan cara menanamkan dana ke dalam perusahaan yang sehat dan baik pengelolaannya. Fungsi utama pasar modal adalah sebagai sarana pembentukan modal dan akumulasi dana bagi pembiayaan suatu perusahaan/emiten. Dengan demikian pasar modal merupakan salah satu sumber dana bagi pembiayaan pembangunan nasional pada umumnya dan emiten pada khususnya di luar sumber-sumber yang umum dikenal, seperti tabungan pemerintah, tabungan masyarakat, kredit perbankan dan bantuan luar negeri.
Sementara itu, bagi kalangan masyarakat yang memiliki kelebihan dana dan berminat untuk melakukan investasi, hadirnya lembaga pasar modal di Indonesia menambah deretan alternatif untuk menanamkan dananya. Banyak jenis surat berharga (securities) dijual dipasar tersebut, salah satu yang diperdagangkan adalah saham. Saham perusahaan go public sebagai komoditi investasi tergolong berisiko tinggi, karena sifatnya yang peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi baik oleh pengaruh yang bersumber dari luar ataupun dari dalam negeri seperti perubahan dibidang politik, ekonomi, moneter, undang-undang atau peraturan maupun perubahan yang terjadi dalam industri dan perusahaan yang mengeluarkan saham (emiten) itu sendiri.
Untuk mengantisipasi perubahan harga saham tersebut maka diperlukan analisis saham. Terdapat dua pendekatan yang sering dilakukan untuk menganalisis harga saham, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal (Sharpe dkk, 1995). Analisis Fundamental pada dasarnya adalah melakukan analisis historis atas kekuatan keuangan, dimana proses ini sering juga disebut sebagai analisis perusahaan (company analysis), sementara itu analisis teknikal merupakan studi yang dilakukan untuk mempelajari berbagai kekuatan yang berpengaruh dipasar saham dan implikasi pada harga saham (Robert Ang, 1997)

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ANALISIS FUNDAMENTAL
Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan pada rasio finansial dan kejadian-kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian pakar berpendapat teknik analisis fundamental lebih cocok untuk membuat keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang dibeli untuk jangka panjang.
Analisis Fundamental merupakan analisis yang didasarkan pada situasi dan kondisi ekonomi, politik dan keamanan secara global. Informasi maupun berita-berita yang berhubungan baik secara langsung dengan situasi perekonomian dapat digunakan sebagai indikator yang cukup penting.
Analisis fundamental adalah analisis berdasarkan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham suatu perusahaan di bursa saham. Beberapa faktor utama atau fundamental yang mempengaruhi harga saham itu misalnya: penjualan, pertumbuhan penjualan, operasional perusahaan, laba, dividen, rapat umum pemegang saham (RUPS), perubahan manajemen, dan pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh manajemen perusahaan.

B. FAKTOR ANALISIS FUNDAMENTAL
Secara umum, faktor-faktor analisis fundamental bisa dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu faktor-faktor yang bisa dikendalikan perusahaan dan faktor-faktor yang di luar kendali perusahaan. Faktor-faktor yang bisa dikendalikan perusahaan mencakup faktor-faktor yang berhubungan dengan operasional perusahaan, seperti penjualan, laba, teknologi, karyawan, dan lain-lain.
Sedangkan faktor-faktor yang di luar kendali perusahaan misalnya: tingkat suku bunga, inflasi dan pertumbuhan ekonomi, serta inflasi. Selain itu, ada pula kebijakan-kebijakan pemerintah -- seperti peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) -- yang bisa mempengaruhi kinerja perusahaan.
Beberapa faktor fundamental yang digunakan untuk melakukan analisa dan perlu dicermati adalah sebagai berikut:
1. Tingkat suku bunga (interest rate).
2. Balance of Payment (BOP).
3. Producer Price Index (PPI input).
4. Consumer Price Index (CPI).
5. Retail Sales.
6. Non Farm Payrolls
7. Gross Domestic Product (GDP).

C. TAHAPAN ANALISIS FUNDAMENTAL
Analisis fundamental dibagi dalam tiga tahapan analisa yaitu:
a. Analisis ekonomi,
b. Analisis industri, dan
c. Analisis perusahaan.
1. Analisis Fundamental Ekonomi
Analisis ekonomi adalah salah satu dari tiga analisis yang perlu dilakukan investor dalam penentuan keputusan investasinya. Analisis ekonomi perlu dilakukan karena kecenderungan adanya hubungan yang kuat antara apa yang terjadi pada lingkungan makro dan kinerja suatu pasar modal. Pasar modal mencerminkan apa yang terjadi pada perekonomian makro karena nilai investasi ditentukan oleh aliran kas yang diharapkan serta tingkat return yang disyaratkan atas investasi tersebut.
Siegel (1991), menyimpulkan adanya hubungan yang kuat antara harga saham dan kinerja ekonomi makro, dn menemukan bahwa perubahan pada harga saham selalu terjadi sebelum terjadinya perubahan ekonomi. Ada dua alasan yang mendasarinya, yaitu:
1. Harga saham yang terbentuk merupakan cerminan ekspektasi investor terhadap earning, dividen, maupun tingkat bunga yang akan terjadi.
2. Kinerja pasar modal akan bereaksi terhadap perubahan-perubahan ekonomi makro seperti perubahan tingkat bunga, inflasi, ataupun jumlah uang yang beredar.
Dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi fundamental perekonomian suatu negara, indikator ekonomi merupakan salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi bagian penting dari keseluruhan faktor fundamental itu sendiri. Seiring kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mendapatkan sumber informasi terkini seorang trader juga sering menggunakan informasi yang berasal dari monitor komputer, misalnya melaui Dow Jones Telerate, Reuters, Knight Rider maupun Bloomberg. Indikator-indikator ekonomi yang sering digunakan dalam Analisis Fundamental diantaranya:
1) Gross Domestic Product
Gross Domestic Product merupakan jumlah seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara baik oleh perusahaan dalam negeri maupun oleh perusahaan asing yang beroperasi di dalam negara tersebut pada suatu periode tertentu.
2) Inflasi
Seorang Trader akan selalu memperhatikan dengan seksama perkembangan tingkat inflasi. Salah satu cara pemerintah dalam menanggulangi inflasi adalah dengan melakukan kebijakan menaikkan tingkat suku bunga. Kebijakan peningkatan tingkat suku bunga ini diharapkan dapat memperkuat nilai tukar dan mengendalikan tingkat inflasi. Penggunaan tingkat inflasi sebagai salah satu indikator fundamental ekonomi adalah untuk mencerminkan tingkat GDP dan GNP ke dalam nilai sebenarnya. Nilai GDP dan GNP merupakan indikator yang sangat penting bagi seorang Trader dalam membandingkan peluang dan resiko investasinya di luar negeri. Beberapa indikator untuk mengetahui tingkat inflasi:
 Producer Price Index (PPI), adalah indeks yang mengukur rata-rata perubahan harga yang diterima oleh produsen domestik untuk setiap output yang dihasilkan dalam setiap tingkat proses produksi. Data PPI dikumpulkan dari berbagai sektor ekonomi terutama dari sektor manufaktur, pertambangan dan pertanian.
 Consumer Price Index (CPI), digunakan untuk mengukur rata-rata perubahan harga eceran dan sekelompok barang dan jasa tertentu. Kedua indeks tersebut, CPI dan PPI, digunakan Trader sebagai indikator untuk mengukur tingkat inflasi yang terjadi. Seorang Trader tidak dapat berharap bahwa Bank Sentral akan menaikkan tingkat suku bunga apabila salah satu indikator memberikan sinyal kuat tentang adanya inflasi maupun menurunkan suku bunga untuk keadaan sebaliknya. Sebagai contoh, dampak Perang Teluk 1991 memicu naiknya harga minyak bumi sehingga indeks CPI di Amerika Serikat juga naik. Namun karena peningkatan indeks CPI itu tidak berlangsung lama, maka Bank Sentral Amerika Serikat tidak mengambil tindakan apa pun.
3) Balance of Payment
Balance of Payment merupakan suatu neraca yang terdiri dari keseluruhan aktivitas transaksi perekonomian internasional suatu negara, baik yang bersifat komersial maupun finansial, dengan negara lain pada suatu periode tertentu. Balance of Payment ini mencerminkan seluruh transaksi antara penduduk, pemerintah dan pengusaha dalam negeri dan pihak luar negeri, seperti transaksi ekspor dan impor, investasi portofolio, transaksi antar Bank Sentral dan lain-lain. Indikator umum yang sering digunakan adalah neraca perdagangan / current account. Faktor lain yang mempengaruhi neraca pembayaran adalah adanya aliran investasi asing yang masuk ke dalam negeri dalam bentuk Foreign Direct Investment maupun Portofolio Investment. Contoh: surplus neraca perdagangan Jepang terhadap Amerika Serikat pada tahun 1998 memberikan indikasi yang jelas terhadap meningkatnya volume permintaan Yen dalam aktifitas perdagangan. Akibatnya nilai tukar Yen terhadap Dollar AS menguat.
4) Employment
Employment adalah suatu indikator yang dapat memberikan gambaran tentang kondisi riil berbagai sektor ekonomi. Indikator mengenai tingkat kesempatan kerja ini dapat dijadikan sebagai alat untuk menganalisis sehat / tidaknya perekonomian suatu negara. Apabila perekonomian berada dalam keadaan full capacity / kapasitas penuh maka akan tercapai full employment. Jika keadaan sebaliknya, maka tingkat pengangguran pun akan meningkat. Tingkat employment adalah indikator ekonomi yang sangat penting bagi pasar keuangan pada umumnya dan pasar valuta asing khususnya.

2. Analisis Fundamental Industri
Analisis industri merupakan salah satu bagian dalam analisis fundamental. Dalam analisis indutri, investor mencoba memperbadingkan kinerja dari berbagai industri, untuk bisa mengetahui jenis industri apa saja yang memberikan prospek paling menjanjikan ataupun sebaliknya. Setelah melakukan analisis indutri, investor nantinya akan dapat menggunakan informasi tersebut sebagai masukan untuk mempertimbangkan saham-saham dari kelompok industri mana sajakah yang akan dimasukkan dalam portofolio yang akan dibentuknya.
Analis dan investor memerlukan metode yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan industri dengan tepat. Salah satu system klasifikasi industri yang telah digunakna secara luas adalah system Standart Industrial Classification (SIC) yang didasarkan pada data sensus dan pengklasifikasian perusahaan berdasarkan produk dasar yang dihasilkan. Standart Industrial Classification (SIC) mempunyai 11 divisi dan masing-masing devisi diberi tanda A-K. sebagai contoh, misalnya perkebunan, pertanian dan perikanan dikelompokkan dalam devisi A, pertambangan dalam devisi B, perdagangan eceran G dan kelompok terakhir yaitu yang belum terklasifikasi disebut dnegan devisi K. masing-masing devisi akan terdiri dari beberapa kelompok industri utama dan diberi kode dua digit. Sebagai contoh, misalnya industri logam yang termasuk dalam devisi D yaitu devisi pertambangan, akan diberi kode 33.
Pengelompokan industri untuk kasus di Indonesia juga dilakukan dengan berdasarkan suatu klasifikasi industri tertentu. Salah satu standart yang banyak dipakai untuk mengelompokkan industri bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) adalah Jakarta Stock Exchange Sectoral Industry Classification (JASICA). Klasifikasi JASICA ini terdiri dari 9 divisi dan masing-masing devisi tersebut dibagi lagi menjadi kelompok industri utama dan diberi kode dua digit.
1. Pentingnya Analisis Industri
Analsis industri meruapakan tahap penting yang perlu dilakukan investor, karena analisis tersebut dipercaya bisa membantu investor untuk mengidentifikasi peluang-peluang investasi dalam indutri yang mempunyai karakteristik resiko dan return yang menguntungkan bagi investor.
Beberapa penelitian yang terkait dengan analisis industri, telah didokumentasiakn oleh Reilly dan Brown (1997), dan menghasilkan kesipulan-kesimpulan seperti berikut ini:
1. Studi mengenai kinerja tahunan industri, menunjukkan bahwa industri yang berbeda mempunyai tingkat return yang berbeda pula.
2. Tingkat return masing-masing industri berbeda di tiap tahunnya.
3. Tingkat return perusahaan-perusahaan industri yang sama, terlihat cukup beragam.
4. Tingkat resiko berbagai industri juga beragam
5. Tingkat resiko suatu industri relative stabil sepanjang tahun.
Dari berbagai penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa analisis industri penting untuk dilakukan, baik untuk meminimalkan resiko ataupun untuk mengidentifikasi industri yang mempunyai prospek yang menguntungkan. Selanjutnya, analisis industri juga perlu diikuti oleh analisis perusahaan, sehingga investor dapat menentukan saham-saham dari perusahaan mana saja dalam suatu kelompok industri yang mempunyai kombinasi return-resiko yang terbaik.
2. Estimasi tingkat keuntungan industri
Dalam melakukan analisis industri, investor juga perlu menilai suatu industri dan menentukan return yang diharapkan dari suatu industri untuk dianalisis. Dengan menilai dan menentukan return yang diharapkan dari suatu indutri, investor akan dapat menentukan peluang investasi pada industri-industri yang punya prospek terbaik. Untuk menilai suati industri, ada dua langkah yang perlu dilakukan, yaitu pertama, mengestimasikan earning per share (EPS) yang diharapkan dari suatu industri, dan kedua, mengestimasi Price Earning Ratio (P/E) yang diharapkan atau disebut juga sebagai expected earning multiplier industri. Selanjutnya, jika hasil kedua estimasi tersebut dikalikan, maka akan kita peroleh nilai akhir yang diharapkan dari suatu industri (expected ending value of industri).
Dengan mengetahui nilai akhir yang diharapkan dari suatu industri, selanjutnya akan dapat ditentukan tingkat return yang diharapakn dari suatu industri. Caranya adalah dengan membagi nilai akhir yang diharapkan dari suatu industri ditambah deviden yang diharapkan dari industri, dnegna nilai awal industri tersebut pada periode sebelumnya. Selanjutnya, dengan membandingkan tingkat return yang diharapkan dari industri terhadap tingkat return yang diharapkan dari industri terhadap tingkat return yang disyaratkan oleh investor, investor akan dapat menentukan keputusan investasi industri tersebut, pilihan investor sebaiknya pada industri-industri yang mampu memberikan return diharapkan yang lebih besar dibading tingkat return yang disyaratkan investor.
3. Estimasi Earning Per Share Industri
Untuk mengestimasikan EPS perlu mengestimasikan penjualan per lembar saham dari suatu industri terlebih dahulu. Ada tiga teknik yang dapat digunakan untuk mengestimasikan tingkat penjualan suatu industri, yaitu dengan daur hidup industri (industri life cycle), analisis input-output, serta hubungan antara indutri dengan ekonomi secara keseluruhan. Ketiga terknik tersebut bersifat saling melengkapi, sehingga investor dapat mengkombinasikan ketiga teknik tersebut untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai posisi industri dalam berbagai scenario.
a. Prakiraan penjualan dan daur hidup industri. Tahap perkembangan industri dapat digunakan untuk mengestimasi besarnya penjualan dari suatuu industri. Tahap perkembangan industri umumnya dibagi menjadi lima yaitu : tahap permulaan, pertumbuhan yang cepat, tahap kedewasaan (mature) stabil dan penurunan. Untuk mengestimasikan penjualan industri perlu menentukan lamanya masing-masing tahap dalam daur hidup industri , dan lamanya waktu untuk masing-masing industri akan berbeda satu dengan yang lain.
b. Prakiraan penjualan dan analisis input-output. Analisis input-output adalah suatu cara alternative untuk mengetahui gambaran prospek penjualan suatu industri dimasa yang akan datang, dengan mengidentifikasi pemasok (supplier) dan konsumen dari suatu indutri. Dengan melakukan analisis input-output, kita dapat mengestimasi permintaan konsumen dimasa datang, serta kemampuan pemasok untuk menyesiakan barang dan jasa dalam suatu industri. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat penjualan dan keuntungan suatu industri simasa depan.
c. Prakiraan penjualan dan hubungn industri dan ekonomi. Teknik yang ketiga ini dilakukan dengan cara membandingkan tingkat penjualan industri dengan kondisi perekonomian secara keseluruhan yang berhubungan dengan barang dan jasa yang diproduksi oleh industri tersebut. Teknik ini didasari oleh asumsi bahwa kondisi perekonomian dimana suatu industri beroperasi akan terkait dengan penjualan dan keuntungan suatu industri.
4. Persaingan dan return industri yang diharapkan
Faktor penting lain yang mempengaruhi besarnya profit yang bisa diperoleh suatu industri adalah intensitas persaingan dalam industri tersebut. Michael Porter telah banyak menulis tentang strategi kompetitif, yaitu suatu strategi yang berguna untuk mencapai posisi kompetitif dalam industri. Intensitas persaingan dalam suatu industri untuk tetap memperoleh return diatas rata-rata. Intensitas persaingan merupakan gambaran dari lima faktor utama persaingan, dan pengaruh masing-masing faktor tersebut untuk masing-masing industri akan berbeda-beda. Lima kekuatan persaingan akan menentukan profitabilitas indutri karena lima faktor tersebut mempunyai pengaruh terhadap komponen return on investment (ROI) dalam suatu industri, kekuatan masing-masing faktor tersebut merupakan fungsi dari struktur industri. Analisis yang dilakukan Porter menunjukkan fungsi dari struktur industri itu sendiri. Investor harus menganalisis struktur industri untuk menilai kekuatan dari lima faktor persaingan, sehingga investor dapat menentukan profitabilitas dari suatu industri. Stuktur industri cenderung berubah, sehingga investor perlu terus memperbarui analisis lingkungan industri sesuai dnegan perubahan yang terjadi
Lima faktor yang menentukan intensitas persaingan dalam suatu industri:
a. Persaingan antar perusahaan yang ada dalam industri.
Persaingan dalam suatu industri akan semakin meningkat jika terdapat banyak perusahaan yang ukurannya relative sama bersaing dalam industri tersebut. Sidamping itu, persaingan juga akan dipengaruhi oleh pertumbuhan industri dan biaya tetap, seta hambatan untuk keluar dari industri tersebut. Pertumbuhan yang lambat akan membuat perusahaan semakin ketat bersaing memperebutkan pangsa pasar yang relative kecil. Tingginya biaya tetap juga akan mendorong peningkatan persaingan, karena dengan tingginya biaya tetap akan mengharuskan perusahaan untuk memproduksi dengan kapasitas penuh. Hal ini akan membuat penawaran dipasar akan semakin meningkat yang kemudian akan menyababkan harga barang semakin menurun, sehingga persaingan akan semakin ketat.
b. Ancaman pemain baru
Meskipun sebuah industri mempunyai jumlah pesaing yang sedikit, investor juga perlu mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang potensial menjadi pemain baru dalam industri. Besarnya ancaman pemain baru ini akan dipengaruhi oleh adanya hambatan-hambatan masuk (barrier to entry) dalam suatu industri, seperti tingginya biaya operasional, seperti tingginya biaya investasi, peraturan pemerintah dab harga barang yang relative kecil dibandingkan dengan biaya produksi. Jika hambatan masuk suatu industri relative tinggi maka kemungkinan adanya pemain baru yang masuk dalam industri tersebut akan semakin kecil.
c. Ancaman adanya produk substitusi
Produk substitusi akan membatasi profit potential suatu industri karena barang substitusi akan memunculkan alternative bagi produk perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan perusahaan untuk menetukan harga produk akan semakin berkurang, karena dibatasi adanya produk substitusi. Artinya, jika harga produk perusahaan terlalu tinggi, konsumen bisa saja berpindah ke produk substitusi yang ditawarkan dipasar
d. Bargaining power pembeli
Daya tawar pembeli di pasar yang kuat bisa mempengaruhi profitabilitas industri. Hal ini terjadi jika konsumen dapat menawar harga atau meminta kualitas yang lebih tinggi dengan kemungkinan pilihan dari produk yang diberikan oleh pesaing lain. Bila jumlah konsumen lebih banyak dari jumlah industrinya, maka bargaining power konsumen adak rendah. Sebaliknya jika jumlah industri lebih banyak dari konsumennya maka bargaining power konsumen akan besar.
e. Bargaining power pemasok
Pemasok dapat mempengaruhi return industri di masa yang akan datang karena merreka mempunyai kekuata untuk menentukan harga dan kualitas dari produknya. Jika jumlah pemasok lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah industrinya maka bargaining power pemasok akan berkurang.
Analisis lima faktor yang menentukan persaingan industri dapat digunakan untuk menilai profit potensial dari suatu industri untuk jangka panjang.
5. Estimasi Earning Multiplier suatu industri
Teknik untuk melalukan estimasi earning multiplier industri ada dua, yaitu analisis makro dan analisis mikro. Dalam analisis makro, investor mempelajari hubungan antara earning multiplier untuk industri dengan earning multiplier untuk pasar. Sedangkan dalam analisis mikro, estimasi earning multiplier industri dilakukan dengan cara mengamati variabel-variabel yang mempengaruhi earning multiplierindustri seperti devident-payout ratio (DPR), tingkat return yang disyaratkan dalam industri (k), dan tingkat pertumbuhan earning dan deviden industri yang diharapkan (g).
Analisis makro mengasumsikan adanya hubungan antara perubahan dalam k dan g untuk industri tertentu dengan pasar keseluruhan . asumsi ini sama halnya dengan hubungan antara perubahan dalam P/E rasio industri dengan P/E pasar secara keseluruhan. Tetapi perlu diingat bahwa hubungan antara industri dengan pasar tidaklah sama untuk setiap industri, bahkan untuk industri tertentu hubungan tersebut tidaklah signifikan. Oleh karena itu, sebelum menggunakan analisis makro untuk mengestimasi earning multiplier untuk industri, perlu mengevaluasi terlebih dahulu kualitas hubungan antara rasio P/E industri yang akan dianalisis dengan P/E pasar. Disamping itu juga perlu melengkapi analisis makro dengan analisis mikro.
Estimasi earning multiplier industri dengan analisis mikro dilakukan dengan cara mengestimasi tiga variabel yang menentukan earning multiplier industri (dividend-payout ratio, tingkat return yang disyaratkan dan tingkat pertumbuhan earning dan deviden yang diharapkan) dan membandingkan ketiga variabel tersebut dengan P/E pasar. Dari hasil analisis tersebut, selanjutnya dapat diketahui apakah earning multiplier industri akan berada diatas, dibawah ataupun sama dengan earning multiplier pasar
3. Analisis Fundamental Perusahaan
Secara umum, analisis fundamental ini melibatkan banyak sekali variabel data yang harus dianalisa, dimana beberapa diantara variabel tersebut yang cukup penting untuk diperhatikan yaitu :
• Rasio laba terhadap saham yang beredar (earning per share-EPS)
• Rasio pertumbuhan EPS
• Rasio harga saham terhadap laba per lembar saham (price earning ratio)
• Rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan (price earning growth ratio)
• Rasio harga saham terhadap penjualan (price/sales ratio)
• Rasio harga saham terhadap nilai buku (price book value)
• Rasio hutang perseroan (debt ratio)
• Margin pendapatan bersih (net profit margin)
Beberapa pendekatan yang dapat digunakan menurut Moh. Samsul untuk mengestimasi harga saham adalah a. relative approach b. discounted approach dan c. factor model. Relative Approach meliputi (1) Price Earning Ratio (2) Price Book Value Ratio (3) Price Devidend Ratio; discounted approach meliputi (1) Earning Approach dan (2) Devidend Approach; sementara faktor model meliputi (1) Single Factor (2) Single Index Model dan (3) multifactor model.
1) Menghitung rasio
Menghitung kondisi perusahaan biasanya dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio secara garis besar di bagi dalam lima kategori utama antara lain, yaitu: keuntungan (profitability), harga (price), likuiditas (liquidity), hutang (leverage) dan efisiensi.
2) Rasio laba terhadap saham beredar (EPS)


Rasio adalah digunakan untuk mengukur suatu tingkat keuntungan dari perusahaan. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai pada kwartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham.
3) Rasio pertumbuhan EPS
Diperoleh dengan membandingkan nilai rasio laba terhadap saham beredar (EPS) pada tahun berjalan dengan nilai EPS pada kwartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham.
4) Rasio harga saham terhadap laba perlembar saham


Biasa juga disebut dengan P/E Ratio yang dihitung dengan cara membagi harga saham dengan keuntungan perlembar saham. Rasio ini digunakan untuk membandingkan suatu perusahaan dengan P/E Ratio rata-rata dari perusahaan dalam kelompok industri sejenis.
5) Rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan (PEG ratio)


Semakin rendah PEG Ratio suatu perusahaan maka berarti harga sahamnya adalah dibawah harga semestinya ( undervalued) dan perusahaan memiliki rasio pertumbuhan EPS yang tinggi. Misalnya suatu perusahaan dengan pertumbuhan EPS sebesar 21.5% dengan P/E Ratio sebesar 37.3% maka PEG Ratio nya adalah 21.5/37.3=0.576.
6) Rasio harga saham terhadap penjualan (P/S ratio)


Rasio ini biasanya digunakan untuk menilai suatu perusahaan yang masih baru atau belum mendapatkan keuntungan dimana rasio ini. Semakin rendah P/S ratio suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain dalam kelompok industri yang sejenis menunjukkan semakin bagus perusahaan tersebut.
7) Rasio harga saham terhadap nilai buku(PB/V Ratio)


Semakin rendah PB/V rasionya berarti harga saham tersebut murah atau berada di bawah harga sebenarnya, namun hal ini juga dapat berarti ada sesuatu yang merupakan kesalahan mendasar pada perusahaan tersebut. Misalnya perusahaan XXX memiliki harta sebesar Rp 100 milyar dan hutangnya sebesar Rp 70 milyar maka nilai buku perusahan tersebut adalah Rp 30 milyar dan apabila saham yang beredar 500 juta maka berarti setiap saham mewakili Rp 600 nilai buku, dengan harga per lembar saham sebesar Rp 1.200 maka berarti PB/V rasio perusahaan tersebut adalah 1.200/600 = 2.
8) Rasio hutang perseroan


Rasio ini mengukur seberapa banyak aset yang dibiayai oleh hutang. Misalnya, rasio hutang 30 % artinya bahwa 30% dari aset dibiayai oleh hutang. Rasio hutang bisa berarti buruk pada situasi ekonomi sulit dan suku bunga tinggi, dimana perusahaan yang memiliki debt rasio yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan, namun selama ekonomi baik dan suku bunga rendah maka dapat meningkatkan keuntungan.
9) Rasio hutang perseroan


Net profit margin adalah rasio tingkat profitabilitas yang dihitung dengan cara membagi keuntungan bersih dengan total penjualan Rasio ini menunjukan keuntungan bersih dengan total penjualan yang diperoleh dari setiap penjualan.
10) Perputaran inventaris


Inventory turnover adalah rasio efisiensi yang dihitung dengan membagi biaya barang yang terjual dengan inventaris, yang menunjukkan seberapa efisien perusahaan mengatur inventarisnya, yaitu berapa kali perputaran inventaris selama satu tahun. Jenis rasio ini sangat bergantung pada jenis industri di mana perusahaan berada. Sebagai contoh, toko kue akan mempunyai tingkat perputaran yang jauh lebih tinggi daripada pabrik pesawat. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah membandingkan hasil yang diperoleh dengan rasio dari perusahaan-perusahaan yang lain dalam industri yang sejenis.
BAB III
PENUTUP

Untuk mengantisipasi perubahan harga saham, maka diperlukan analisis saham. Terdapat dua pendekatan yang sering dilakukan untuk menganalisis harga saham, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal (Sharpe dkk, 1995). Analisis Fundamental pada dasarnya adalah melakukan analisis historis atas kekuatan keuangan, dimana proses ini sering juga disebut sebagai analisis perusahaan (company analysis).
Analisis Fundamental merupakan analisis yang didasarkan pada situasi dan kondisi ekonomi, politik dan keamanan secara global. Informasi maupun berita-berita yang berhubungan baik secara langsung dengan situasi perekonomian dapat digunakan sebagai indikator yang cukup penting.
Analisis fundamental adalah analisis berdasarkan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham suatu perusahaan di bursa saham. Beberapa faktor utama atau fundamental yang mempengaruhi harga saham itu misalnya: penjualan, pertumbuhan penjualan, operasional perusahaan, laba, dividen, rapat umum pemegang saham (RUPS), perubahan manajemen, dan pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh manajemen perusahaan.
Beberapa faktor fundamental yang digunakan untuk melakukan analisa dan perlu dicermati adalah sebagai berikut:
1. Tingkat suku bunga (interest rate).
2. Balance of Payment (BOP).
3. Producer Price Index (PPI input).
4. Consumer Price Index (CPI).
5. Retail Sales.
6. Non Farm Payrolls
7. Gross Domestic Product (GDP).
Tahapan dalam analisis fundamental terbagi menjadi 3 tahap, yaitu Analisis ekonomi, Analisis industri, Analisis perusahaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar